Ratu Pantai Selatan

Siapa yang belum pernah mendengar nama Ratu Pantai Selatan? Dari pesisir Jawa, Sunda hingga Bali, namanya melegenda sebagai penguasa alam gaib, ratu dari segala ratu pengasihan sekaligus penguasa kekayaan berlimpah tanpa batas. Sehingga tidak heran, jika keberadaan Ratu Pantai Selatan kemudian begitu dekat dengan penguasa keraton Dinasti Mataram Islam sebagai ‘istri spiritual’ para raja Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

 

Demikian lekatnya hubungan ini, hingga pihak keraton secara khusus menyediakan persembahan kepada sang ratu di Pantai Parangkusumo, Bantul dan Pantai Paranggupita, Wonogiri. Bahkan Panggung Sanggabuwana yang terletak di kompleks keraton Surakarta dipercaya sebagai tempat dimana sang sunan bercengkerama dengan Ratu Pantai Selatan. Di tempat tersebut, Ratu Pantai Selatan menampakkan dirinya sebagai perempuan muda dan cantik tiada tara ketika bulan purnama tiba.

 

 

Ratu Pantai Selatan adalah ratunya para pencinta. Bagaimana tidak, bila kekuatan magisnya saja mampu menjadi sumber daya pengasihan tertinggi di dunia. Maka lumrah dan wajar bila kemudian Ratu Pantai Selatan menjadi rujukan bagi mereka yang ingin menaklukkan sukma pujaan hati sekaligus menjadi ratu dan raja dihadapan orang yang paling mereka kasihi.

 

Berbicara tentang Ratu Pantai Selatan bukan hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang sumur kekayaan yang tidak ada habisnya. Bukan rahasia umum lagi bila ratusan bahkan ribuan orang rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan sedikit saja dari berkah kekayaan yang bisa diberikan oleh Ratu Pantai Selatan. Beberapa diantara cara-cara tersebut bisa dimengerti, sementara sisanya mungkin akan membuat kebanyakan orang bergidik ngeri.

 

Tahukah Anda, bahwa sesungguhnya mendapatkan kekayaan berlimpah itu sangat mudah?

 

Jati Diri Ratu Pantai Selatan

Kisah mengenai jati diri Ratu Pantai Selatan diceritakan dalam beberapa versi yang berbeda. Salah satunya dalam kepercayaan masyarakat Sunda, Ratu Pantai Selatan dipercaya sebagai seorang putri cantik jelita, anak dari Raja Munding Wangi yang bernama Dewi Kadita. Sang raja Pajajaran begitu menyayangi putrinya yang cantik rupawan, namun tetap mengharapkan kehadiran seorang putra. Karena itulah ia menikah dengan Dewi Mutiara dan mendapatkan seorang anak lagi-laki dari perkawinannya.

 

Malang tak dapat ditolak, Dewi Mutiara ingin memastikan bahwa anaknya kelak menjadi raja tanpa penantang tahta. Sehingga ia pun berupaya untuk menyingkirkan Dewi Kadita. Dengan bantuan seorang dukun tukang tenung, Dewi Mutiara meneluh atau mengutuk Dewi Kadita sehingga dalam semalam saja, sang putri yang tadinya cantik jelita berubah menjadi buruk rupa nan menjijikkan karena kudis dan gatal-gatal yang menyebabkan tubuhnya berbau busuk.

 

Tak satupun dari sekian banyak tabib yang diundang oleh Raja Munding Wangi berhasil menyembuhkan Dewi Kadita. Di saat yang sama, Dewi Mutiara mendesak agar Dewi Kadita segera diusir dari kerajaan karena dianggap mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri. Termakan desakan sang istri, Raja Munding Wangi pun setuju untuk mengirimkan putrinya ke luar kerajaan.

 

 

Dewi Kadita berkelana seorang diri tanpa tahu kemana harus pergi. Tangisnya habis tak bersisa, dan dengan hatinya yang mulia ia berdoa agar Sang Hyang Kersa mendampinginya dalam menanggung segala derita.

 

Setelah berjalan dalam ketidakpastian selama tujuh hari tujuh malam, Dewi Kadita akhirnya tiba di Pantai Selatan. Diantara debur ombak dan jernihnya air samudera, tiba-tiba terdengar bisikan gaib yang menyuruhnya untuk terjun ke dalam Laut Selatan. Tak dinyana, ketika air samudera menyentuh kulitnya, ketika itu pula keajaiban terjadi. Semua bisul dan penyakit kulit yang ia derita lenyap dalam sekejap. Dewi Kadita berubah cantik kembali, bahkan lebih cantik dari sebelumnya.

 

Sejak saat itulah Dewi Kadita mengabdikan diri sebagai penguasa Pantai Selatan. Menjadi seorang ratu yang membagikan cinta dan kekayaan bagi mereka yang mau mencarinya dengan mata terbuka.

 

Telu-teluning Atunggal

Lain Sunda lain Jawa. Bila masyarakat Sunda mengenal Ratu Pantai Selatan sebagai Dewi Kadita, maka masyarakat Jawa meyakini Ratu Pantai Selatan sebagai salah satu dari tiga sosok satu kekuatan atau telu-teluning tunggal. Tiga sosok ini adalah Eyang Resi Projopati, Panembahan Senopati dan Ratu Pantai Selatan sendiri. Panembahan Senopati merupakan pendiri kerajaan Mataram Islam, sedangkan Ratu Pantai Selatan telah setuju melindungi Kerajaan Mataram yang didirikannya tersebut. Dari sinilah ritual penghormatan terhadap Ratu Pantai Selatan dilakukan secara rutin sebagai sebuah tradisi.

 

Selain adanya berbagai macam ritual yang dilakukan untuk menghormati Ratu Pantai Selatan, di sekitar pantai Pelabuhan Ratu (atau tepatnya di Karang Hawu) terdapat petilasan atau persinggahan Ratu Pantai Selatan. Area inilah yang kerap dikunjungi baik untuk melakukan ritual maupun sebagai tujuan wisata belaka. Termasuk dalam kompleks area yang dikeramatkan ini adalah makam Eyang Sanca Manggala, Eyang Jalah Mata Makuta dan Eyang Syeh Husni Ali. Masih di kompleks yang sama, gambar Sang Ratu Pantai Selatan terpampang sedemikian rupa. Bahkan jauh di bilangan Pekojan – Jakarta Barat sana, penghormatan terhadap Ratu Pantai Selatan juga dilakukan di Vihara Kalyana Mitta.

 

Inilah yang mistis dan magis dari Ratu Pantai Selatan. Tidak peduli seperti apapun sang ratu diyakini dan digambarkan, Ratu Pantai Selatan tetaplah seorang ratu yang tersohor karena mampu memberikan harta kekayaan dan melimpahkan daya pengasihan. Dengan restu dan bantuannya siapapun yang Anda cinta bisa menjadi milik Anda, dengan restu dan bantuannya pula berapapun kekayaan yang Anda minta bisa tergali di depan mata.